Pages

Wednesday, June 12, 2013

Mom, You Are My Everything

Memang kata yang terdiri dari lima huruf yaitu C-I-N-T-A adalah sebuah topik yang menarik untuk dibahas. Tapi saat ini kita tidak akan membahas cinta monyet, cinta buta atau istilah cinta sejati dari sepasang insan. Yang akan kita bahas saat ini adalah cinta yang melimpah ruah dari insan yang pernah menjadikan dirinya separuh kita. Sosok yang selalu memberikan kenyamanan, yang memberikan pengorbanan melebihi nyawanya senidri, yang memberikan lebih dari separoh malamnya untuk memastikan kita terlelap dengan nyenyak, yang membiarkan kita makan dengan lahap, yang senantiasa berdoa untuk kita.  Cinta dari siapakah itu? Yup.., benar sekali. Cinta dari sang ibu.

Wanita cantik yang anggun menurutku adalah ibuku. Dibalik kesederhanaannya telah terbukti kehebatannya dalam membesarkanku dan saudara-saudaraku. Bekerja di rumah sakit sebagai perawat dengan jadwal dinas yang terkadang mengharuskannya meninggalkan pekerjaan rumahnya dan kemudian menyelesaikannya setelah membantu menyelamatkan nyawa orang lain adalah kebanggaan sendiri bagiku. Dan kalau urusan penampilan, ibuku sangat sederhana, termasuk cara berpakaiannya. Jika sekarang sedang trend memakai jilbab dengan style hijabers maka ibuku dengan kesetiaannya tetap memilih model jilbab yang lama. Dan itu tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun.

Jika sebagian besar ibu-ibu di kota besar yang aku lihat, sibuk memperhatikan penampilannya, baju yang dipakai, sepatu yang digunakan, tas yang dibawa, merk tas branded atau tidak. Maka ibuku tidak akan pernah menjadi bagian dari ibu-ibu itu. Karena ibuku tidak pernah memperhatikan barang bermerk. Dia akan membeli barang ketika membutuhkannya dan lebih mempertimbangkan fungsinya ketimbang merknya (karena ibuku tidak kenal baik juga dengan barang-barang branded, hehe..). Ibuku lebih memilih untuk menggunakan uangnya untuk membelikan perlengkapan anaknya untuk sekolah dan sehari-hari ketimbang untuk dirinya sendiri. Dan ketika dia mendapat makanan dari rumah sakit sehabis mengoperasi, misalnya martabak mesir atau nasi goreng, maka dia akan membawanya pulang dan memberikannya kepada kami. Anak-anaknya, dan membiarkan kami makan dengan lahapnya.. malah saking lupa diri, kami menghabiskannya sendiri (memang anak yang mendekati sifat si malin ini. hehe..)
Gayanya sederhana, tutur kata dan sifatnya juga sederhana. Jika ada yang bertanya siapakah menurutmu orang tersabar? Maka dengan mantap aku akan menjawab ibuku. Kadang untuk kepentingan orang lain dia mengorbankan kepentingannya sendiri. Walaupun orang telah berlaku tidak adil dengannya maka ibuku akan tetap tersenyum. Dia akan selau terlihat riang gembira di depan semua orang. Sepertinya baginya tidak ada masalah yang besar dalam hidup ini. Karena nyatanya kita selalu bersama dengan yang Maha Besar.

Kalau aku disuruh membayangkan wajah sosok ibu, maka akan terbayang wajah cantik ibuku yang dari tahun ke tahun semakin menua dan rambutnya semakin banyak yang memutih, tapi untuk “satu hal” yang akan tetap sama yaitu cita rasa masakan ibu. Apalagi pical dan racikan sambal baladonya, khas banget..!! (Pingin bisa pinter masak kayak ibuku, tapi.. sepertinya aku masih jauh dari se ekspert beliau). Buktinya saja, aku makan bertahun-tahun dengan masakan ibuku tidak pernah bosan, sedangkan sejak merantau ini, sekalipun makan masakan padang ataupun warteg, tetap saja ada kalanya bosan menyerangku. Dan masakan ibu menjadi alasan utama untuk pulang dan membuat homesick.
Dan jika ada yang bertanya, apa ibuku hanya bisa memasak? Apa beliau juga pintar? Maka aku menjawab dan akan membela dengan jawaban santai, Ibu ku memang tidak sehebat anda dibidang yang anda kuasai tapi ibuku ahli dibidang yang dikuasainya yaitu medis. Jadi wajar saja jika ibuku tidak mengerti fisika, statistik ataupun kimia.

Dengan semua kelebihan dan kekurangan ibuku, I just wanna say that.. Mom, you are my everything.

No comments:

Post a Comment