Pages

Sunday, May 19, 2013

Mentoleransi kesalahan


Mungkin saat ini, sering kita dengar atau melihat bahwa orang-orang sering mentoleransi kesalahan.  Untuk hal-hal yang sudah jelas salah, orang-orang cendrung memberikan pemakluman akan kejadian atau sikap tersebut. Tapi ketika seseorang melakukan dan menjalani kebenaran maka banyak yang beranggapan bahwa itu kaku dan tidak fleksible. Sebenarnya apa yang benar-benar terjadi saat ini??
Bingung kan?? Dari tadi yang punya blog ngomongin apa? Bahas apa? Topiknya apa?? Hehe..., maklum sedang belajar membuat bahasa yang sedikit abstrak.
Mungkin untuk lebih jelasnya saya jelaskan dengan contoh sederhana aja kali ya...
Ketika azan berkumandang, banyak orang yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Mereka bukannya langsung beranjak untuk sholat, tetapi malah tetap asik dengan aktivitas masing-masing. Kita semua tau bahwa menunda waktu sholat itu salah. Tetapi kita mentoleransinya karena beranggapan pekerjaannya masih banyak atau kesibukan yang dilakukan akan sayang kalau ditinggalkan. Menunda sholat adalah perbuatan yang salah, kemudian karena kesibukan dan bla bla bla maka ditoleransi untuk sholat tidak tepat waktu. Karena sudah biasa sholat di ujung waktu maka itu menjadi kebiasaan pada diri seseorang. Sehingga melalaikan sholat bukan lagi masalah baginya. Lainnya.., saat ini kasus MBA “hampir” menjadi kasus yang dianggap biasa di masyarakat. Ketika Si A menikah dan ketahuan karena MBA, orang-orang berkata: “maklumlah karena pergaulan bebas, Si A itukan kalau pacaran bla bla bla...”. Sebenarnya pemakluman untuk yang salah itu kurang tepat. Karena kenyataannya tindakan si A itu memang salah. Dan pemakluman dari masyarakat bisa menjadikan MBA menjadi hal yang lumrah dan tidak aneh lagi.
Sebuah kesalahan yang di toleransi nanti akan membuat kita menganggap kesalahan itu menjadi sesuatu yang biasa. Ketika kita menganggap kesalahan itu biasa saja, maka lama kelamaan kita akan menjadikan yang salah itu menjadi kebiasaan dan jika dipertahankan dalam waktu lama maka akan menjadi karakter yang melekat pada diri seseorang. Ini mungklin teori sederhana dari Si empunya blog.., tapi belajar dari pengalaman hidup, memang begitu adanya. Karena terkadang sadar tidak sadar yang empunya blog untuk beberapa hal masih mentolerir kesalahan.
Ini memang bukan ajang untuk menjudge seseorang lebih baik dari orang lain, tetapi lebih kepada saling mengingatkan kepada kita. Ketika hati kita tidak lagi sensitif dengan kesalahan dan akhirnya hati kita a mati rasa dengan kesalahan yang kita perbuat.Maka patut kita pertanyakan kondisi ruhiyah kita saat ini!!
#Kurangi mentolerir kesalahan atau hal yang sudah tahu bahwa itu salah dan selalu lakukan perbaikan diri.

No comments:

Post a Comment