Pages

Wednesday, August 14, 2013

Zero point

Adakalanya kita merasa kekurangan di tengah kelebihan, kesepian ditengah kebisingan, dan kebingungan ditengah ketenangan. Bukan situasi galau yang kita hadapi, tapi lebih dari itu yaitu ketika kita merasa berada di “zero point”. Kita merasa tak ada yang istimewa dalam hidup kita, hingga akhirnya hati kitapun mati rasa untuk merasakan syukur dan bahagia.
Kita seakan tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, hanya sekedar mengikuti arus dan mulai melupakan impian dan cita-cita yang dulu pernah singgah di memori kita. Situasi itu tidaklah terlalu buruk, jika hanya sekedarnya saja, dan dalam waktu singkat terjadi dalam hidup kita. Karena setelah menyadari kondisi itu kita langsung melakukan perubahan (hijrah) dan melakukan kehidupan yang lebih dinamis dan penuh semangat dalam berbagai kondisi (yang disetiap aktivitasnya ada syukur yang terucap dibibir dan dihati) maka percayalah!! Hidup seperti itulah yang sepantasnya kita lewati dan sekaligus juga diimpikan oleh banyak orang.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?? Dalam upaya untuk melepaskan diri dari “zero point”??
1.   Membiarkan satu pikiran dalam satu waktu.
Bukan berarti kita melupakan masalah dan kepentingan yang lain, tapi ada kalanya kita butuh untuk konsentrasi dan focus terhadap sesuatu hal tanpa diganggu pikiran lain yang bisa membuat tingkat kefokusan kita berkurang, apalagi jika hal itu saling bertentangan dan sangat berat. Dan hal ini jika dianalogikan dalam beribadah adalah kekhusyukan dalam sholat.
2.   Terima kenyataan bahwa kita berada disini sekarang.
Tidak ada gunanya menyesali pilihan kita dimasa lalu, ataupun merasa takut dengan kehidupan kita dimasa depan. Kita hanya perlu menyadari bahwa saat ini adalah saat yang terbaik dalam hidup kita untuk melakukan kebaikan dalam pekerjaan dan hidup untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Dan kurangi berandai-andai dalam kehidupan jika nyatanya dalam actionpun kita masih kurang.
3.   Tidak lagi memikirkan balas jasa dari setiap amalan kita.
Istilahnya adalah keikhlasan yang berteman dengan kepasrahan kepada Allah SWT. Titik dan fase kehidupan yang membuat seseorang mencapai titik ini adalah orang yang menyadari penuh bahwa hidupnya di dunia ini adalah sebagai hamba Allah yang senantiasa untuk beribadah kepada Allah. Ketika kita memberi maka kita tidak akan lagi memikirkan apakah yang dibantu akan membalasnya? Apakah dia akan menghargainya? Apakah yang diberi bisa berbuat baik kepada kita? Percayalah Allah punya hitungan timbangan sendiri dalam menilai amalan dan kebaikan kita.
#Kita disini adalah aku, kamu dan kalian semua termasuk mereka. J


No comments:

Post a Comment